Just be yourself

Jadilah dirimu sendiri, sebaik-baiknya DIRIMU!!

Senin, 10 September 2012

Belajar Bertobat dari Tsa’labah


Tsa’labah bin Abdurrahman ra selalu membantu Rasulullah saw dalam segala urusan beliau. Suatu hari Rasulullah menyuruhnya ke suatu tempat. Tsa’labah melewati rumah sahabat anshar dan melihat seorang perempuan yang sedang mandi. Ia terpaku cukup lama. Saat tersadar, ia resah khawatir wahyu akan turun kepada Rasulullah terkait perbuatannya.

Ia pun bersembunyi di pegunungan di antara mekah dan madinah selama kurang lebih 40 hari.  Malaikat jibril memberitakan kondisi Tsa’labah. Nabi kemudian memerintahkan Umar bin Khathab dan Salman Al-Farisi untuk menjemput Tsa’labah.

Di pinggiran Madinah, Umar dan Salman bertemu penggembala. Gembala itu berkata, “Sepertinya engkau mencari orang yang sedang lari dari neraka jahannam. Di pengujung malam, ia keluar menemui kami sambil menyimpan tangannya di atas kepala dan berteriak-teriak, Wahai seandainya Engkau mencabut ruhku diantara ruh-ruh itu, jasadku diantara jasad-jasad itu. Mengapa engkau terus memberiku waktu dari kematianku? “ Umar berkata,” Itulah orang yang kami cari.” Singkat cerita, Tsa’labah meminta agar Umar membawanya menemui Rasulullah saat beliau shalat.

Usai shalat, Rasulullah berdiri dan mengguncang-guncangkan tubuh Tsa’labah dan berkata, “Apa yang menyebabkan engkau menghilang dari hadapanku wahai Tsa’labah?” ”Dosaku, ya Rasulullah,”jawab Tsa’labah. Rasulullah pun menunjukkan satu ayat yang dapat menghapuskan dosa, yaitu rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban naar.

Tsa’labah berkata ,”Dosaku sangat besar.” “Kalimat Allah itu lebih besar,” ujar Rasulullah. Beliau lalu menyuruh Tsa’labah pulang. Delapan hari berlalu, Rasulullah bersama Salman menemui Tsa’labah di rumahnya. Karena merasa dirinya dipenuhi dosa, Tsa’labah menjauhkan kepalanya dari pangkungan Rasulullah.

“Apa yang kini engkau rasakan?” Tanya Rasulullah. “Seperti gigitan semut pada tulang, daging dan kulitku,” jawab Tsa’labah. Rasulullah bertanya,” Apa yang dapat menjadi obat bagimu?” Tsa’labah menjawab,”Ampunan dari Rabb-ku.”

Maka Jibril datang dan berkata,”Wahai Muhammad! Sesungguhnya Rabb-mu ini menyampaikan salam kepadamu dan mengatakan,”Jika hamba-Ku yang ini menemuiku dengan gundukan tanah dari kesalahan, maka Aku akan menemuinya dengan gundukan tanah dari ampunan.”
Saat diberitahu Nabi hal itu, Tsa’labah berteriak dengan teriakan yang luar biasa yang mengantarkannya pada kematian. Karena “kepopuleran” Tsa’labah, banyak malaikat yang turun ketika jenazahnya dishalati.

Sahabat, ada dua pelajaran penting yang dapat kita ambil dari cerita Tsa’labah. Pertama, sebagai seorang Mukmin, kita mesti memiliki sensitivitas atas segala amal perbuatan kita, apakah termasuk kategori berpaha atau berdosa.

Kedua, kita pasti pernah melakukan salah dan dosa, maka kita harus membiasakan diri segera melakukan taubatan nasuha dan menyadari bahwa ampunan Allah begitu luas. Semoga kita termasuk orang yang memiliki sensitivitas terhadap dosa dan gemar bertobat.

#Taken from Majalah Ummi edisi Desember 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar