Just be yourself

Jadilah dirimu sendiri, sebaik-baiknya DIRIMU!!

Jumat, 08 Februari 2013

Dialog Dua Hati

Sebagian dialog ini saya ambil dari cerita bersambung yang ada di Tumblr judulnya "Sandal yang sebelah" karya Ana M. Rufisa. Cerita ini belum selesai, kalau ingin membaca silakan klik disini

Cerita ini menggunakan sudut pandang orang pertama dari dua orang tokoh (Adisti dan Fahrobbi), dan dialog dibawah ini merupakan suara hati dari kedua tokoh yang diam-diam saling mengagumi dan (mungkin!) mencintai.

Fahrobbi : 
Adakah hal lain yang lebih dekat dari kematian? Mencintamu hampir membuatku mati. Mati dari hal-hal lain yang memang tak perlu dibanggakan dari hidup ini selain-Nya. Aku banyak belajar darimu, bahkan dari caramu berdiam. Ini adalah tahun yang memang tak perlu lagi aku mencari yang lebih baik, karena di hatiku sudah Tuhan titipkan namamu, dalam doa-doa, tentu saja dalam doa yang baik. Kau tidak perlu tahu, kau hanya butuh menunggu. Aku akan bilang kepada ibumu, juga bapakmu, “Sandal saya yang sebelah sudah saya temukan, bolehkah saya membawanya pulang?”

Adisti : 
Pulang katamu? Siapa yang kau tuju sebenarnya? Aku atau semua perlengkapan yang ada padaku? Parasku hanyalah perlengkapan, dan itu bisa kau temukan di mana saja kau mau. Tapi jika hatiku yang menjadi tujuan, itu sulit, terlalu sulit. Kau harus banyak bersabar. Kau harus siap-siap berkorban. Apa yang bisa kau korbankan untuk membawa pulang sandalmu yang sebelah ini? Hati akan terbayar oleh hati. Dan sampai saat ini aku masih melihat hati yang ragu. Entah ragu dalam hatimu, atau ragu dalam hatiku. Kita memang terlihat saling meragu.

Fahrobbi : 
Ragu… aku ragu? Itu karena kau terlalu sempurna, setidaknya di mataku. Tidak banyak yang bisa aku korbankan… Itu karena aku tidak pernah tahu sebelumnya bahwa kamulah orangnya, jika aku sudah tahu sejak dulu, aku pasti akan mempersiapkan segalanya lebih awal. 
Kalau hanya sekadar iman, aku punya itu, walau sudah banyak debu yang menutupinya. Tapi masih bisa aku bersihkan, akan kurendam di dalam air paling panas, agar semua noda hilang tanpa bekas.

Adisti : 
Bukan sekadar iman. Kalau iman, semua laki-laki pasti menyimpan itu. Yang belum kau simpan dalam dirimu adalah mencintaiku karena iman, bukan karena nafsu yang terselubung iman. Aku harap kau paham.

Fahrobbi : 
cintaku ini belum juga atas nama iman? Lalu Tuhan yang selalu mengalir dalam darahku, apa itu belum cukup untuk dikatakan iman? Iman menurutmu nampaknya sulit aku definisikan. Tapi bukan berarti aku berhenti sampai di sini. Akan kucari definisi iman itu sampai dapat…

Adisti :
Iman memang sudah ada sejak kau masih menjadi setetes air. Namun, jangan kauartikan. Kau hanya perlu mem… mem…fungsikannya dengan benar. Ah, aku bicara ini, padahal aku juga belum tahu apakah iman di dalam diriku ini sudah benar atau belum. Aku bicara ini sebenarnya agar kau tahu, bahwa aku butuh imam yang akan membimbingku pada iman yang sebenar-benar!
 
Fahrobbi :
Kita bisa memfungsikan itu bersama. Maksudku berdua. Ah, maksudku bertiga, berlima, atau sebanyak apapun anak yang Tuhan titipkan kepada kita… Apakah kau masih ragu padaku?

Adisti :
Iya, aku masih ragu. Meragukan niatmu. 

Fahrobbi
Mari bershalat. Tuhan akan memberikan kita penjelasan, setidaknya ketenangan. 

Adisti :
Setelah itu, kuatkan niatmu. Aku datang dari niat. Aku pun pergi dengan niat. Kau belum sepenuhnya berniat. Yang aku tahu, kau masih di batas harap. Niat bagai membelah laut dengan tongkat. Niatmu belum sekuat Musa. 
Ya Allah… kenapa harus orang ini lagi? Aku sudah berusaha untuk menghindar… Tolong aku! Aku tidak ingin jatuh hati! Aku takut Kau cemburu! Matanya, bola matanya cokelat seperti ayahku. Kenapa dia tidak pakai kacamatanya saja! Ya Allah… 

Fahrobbi :
Dua hari yang lalu, aku melihatnya sedang mengantri di bank yang sama denganku. Aku pura-pura tidak melihatnya… Pura-pura itu rasanya menyakitkan..



Tidak ada komentar:

Posting Komentar