Kalo di postingan beberapa hari yang lalu ada sajak september, sekarang saya akan posting sajak desember mengawali desember ceria kali ini, puisi ini ditulis oleh Sapardi Djoko Damono.
SAJAK DESEMBER
kutanggalkan mantel serta topiku yang tua
ketika daun penanggalan gugur:
lewat tengah malam. Kemudian kuhitung
hutang-hutangku pada-Mu
mendadak terasa: betapa miskinnya diriku;
di luar hujan pun masih kudengar
dari celah-celah jendela. Ada yang terbaring
di kursi, letih sekali
masih patutkah kuhitung segala milikku
selembar celana dan selembar baju
ketika kusebut berulang nama-Mu:taram-
temaram bayang bianglala itu
(1961)
disela-sela derasnya hujan malam ini, izinkan kami bersyukur pada-Mu ya Robbi.. Allahumma Shayyiban Naafi'a
9:02pm
:pantaskah kita tidak bersyukur, setelah apa yang diberikan Allah pada kita?:
Just be yourself
Jadilah dirimu sendiri, sebaik-baiknya DIRIMU!!
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 04 Desember 2013
Jumat, 29 November 2013
September kelabu (?)
Sebenarnya ini postingan telat,, mau di posting bulan september kemarin tapi karena sibuk-sibuknya penelitian jadinya sempat terabaikan.. ini juga jadi postingan pertama setelah blog ini 'tertidur' 4 bulan.. *maaf ya lenteraku
September kelabu? kenapa harus disebut kelabu? mungkin bagi beberapa orang (termasuk saya) bulan september itu mengingatkan seseorang yang sudah pergi jauh... jauh sekali. Kalo seorang teman bilang september itu bulannya orang kehilangan.
Dari facebook, saya menemukan ada dua orang teman yang ternyata ditinggal 'pergi' di bulan september, mungkin bedanya cuma tahun kepergiannya yang tidak sama. Dan puisi dibawah yang judulnya "Sajak September" karya Hendry Ch Bangun yang saya reblog dari tumbrnya mba Tia Setiawati Pakualam isinya sangat-sangat cocok dengan saya yang menganggap september itu bulan kelabu.
Tapi rindu yang tak larut...
12:56am
:ditengah derasnya hujan akhir november:
Minggu, 30 Juni 2013
Hujan Bulan Juni
Sumber : klik disini
karya : Sapardi Djoko Damono
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
:hari terakhir di bulan juni,, dan hujan di siang ini melengkapi semua cerita yang terjadi sebulan terakhir..selamat tinggal juni, dan selamat datang juli:
Marhaban Ya Ramadhan..
Rabu, 23 Januari 2013
Spasi
Seindah apa pun huruf terukir dapat bermakna apabila
tak ada jeda?
Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak?
Dan
saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan,
tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.
Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak
dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali. Jiwa
tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah.
Jadi, jangan
lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang
Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat.
Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.
Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku
ingin seiring dan bukan digiring.
-Dewi 'Dee' Lestari-
11:07am
:jarak adalah sebuah garis batas, tetapi jalinan perasaan adalah penembusnya [Agustinus Wibowo]:
Minggu, 02 Desember 2012
Puisi Dari Rahmi
Sewaktu KKN kemarin (18 Juni-14 Agustus 2012 di Jeneponto), saya dan teman-teman sempat
mengajar di TPA dekat posko. Murid saya ada sekitar 5 orang, tapi terus
berkurang dari hari ke hari (sampai nda ada yang datang sama sekali, hehe :D). Waktu itu saya pernah menyuruh mereka membuatkan
puisi untuk saya, awalnya sih saya cuma menyuruh mereka bercerita tentang apa
saja, cuma 2 orang yang berani dan yang lainnya hanya mendengarkan. Karena masih
ada yang takut untuk bercerita, saya memberikan mereka tugas untuk menulis
puisi.
” Jadi tugasnya buat puisi nah, kerjakan di rumah,
kalo sudah selesai nanti kasikan ke kakak. Oia puisinya tentang Ka’ Mahda ya (ini
sebenarnya iseng ditambah pengen banget ada orang yang buatkan puisi khusus
untuk saya *ngarep :p).”
Memasuki bulan ramadhan, jadwal TPA-nya mulai tidak
teratur dan saya jarang lagi ketemu sama murid-murid saya. Ternyata, sampai
saya selesai KKN dan sudah mau balik ke Makassar hanya ada 1 orang yang
betul-betul mengerjakan PR-nya. Namanya Rahmi, baru kelas 5 SD tapi puisi yang dia buatkan untuk saya itu
sudah sangat wahhh untuk ukuran anak SD. Saya merasa kalah, saya yang sudah
semster 7 saja tidak terlalu pintar untuk membuat sebuah puisi. Saya cuma menangis
sewaktu baca puisinya Rahmi di mobil (ketika itu saya dan teman-teman dalam
perjalanan kembali ke Makassar). Sedihnya saya cuma bisa kasi Rahmi gantungan
kunci dan bros dari kerang yang saya beli di pantai bira.
Silahkan dibaca puisinya Rahmi, ini tanpa ada editan
loh, langsung saya salin.
Mawar
Merah (Ka’ Mahda)
Kau begitu cantik hari ini
Malam indah terindah raut wajahmu
Mata berbinar dalam kesunyian
Wahai Ka’ Mahda
Daun
begitu lekat padamu
Kaupantas
tersenyum hari ini
Wahai
Ka’ Mahda
Sepi ilalang di pangkuanmu
Lekuk sahaja pesona manismu
Darah deras salami rindu
Wahai Ka’ Mahda
Duri
tak terasa menyapa
Nyanyian
angin suka padamu
Hiasi
malam senyuman manismu
Kau
pantas di sebut mawar merah
Wahai
Ka’ Mahdaku
Pencipta
Rahmi
Buat
Ka’ Mahda
Rahmi dan Ila
Puisi dari Rahmi
Semoga kita bisa ketemu lagi ya Rahmi.. Insyaallah..
12:50pm
:ditunggu.. puisi dari seseorang:
Senin, 26 November 2012
Jembatan Zaman
Bertambahnya usia bukan
berarti kita paham segalanya.
Pohon besar tumbuh
mendekati langit dan menjauhi tanah. Ia merasa telah melihat segala dari
ketinggiannya. Namun, masih ingatkah ia dengan sepetak tanah mungil waktu masih
kerdil dulu? Masih pahamkah ia akan semesta kecil ketika semut serdadu bagaikan
kereta raksasa dan setetes embun seolah bola kaca dari Surga, tatkala ia tak
peduli akan pola awan di langit dan tak kenal tiang listrik?
Waktu kecil dulu,
kupu-kupu masih sering hinggap di pucuknya. Kini, burung besar bahkan
bersangkar di ketiaknya, kawanan kelelawar menggantungi buahnya. Namun, jangan
sekali-kali ia merendahkan kupu-kupu yang hanya menggeliat di tapaknya, karena
mendengar bahasanya pun ia tak mampu lagi.
Setiap jenjang memiliki
dunia sendiri, yang selalu dilupakan ketika umur bertambah tinggi. Tak bisa
kembali ke kacamata yang sama, bukan berarti kita lebih mengerti dari yang
semula. Rambut putih tak menjadikan kita manusia yang segala tahu.
Dapatkah kita kembali
mengerti apa yang ditertawakan bocah kecil, atau yang digejolakkan anak belasan
tahun seiring dengan kecepatan zaman yang melesat meninggalkan? Karena kita
tumbuh ke atas, tapi masih dalam petak yang sama. Akar kita tumbuh ke dalam dan
tak bisa terlalu jauh ke samping. Selalu tercipta kutub-kutub pemahaman yang
tak akan bertemu kalau tidak dijembatani.
Jembatan yang rendah hati, bukan kesombongan diri.
09:34pm
:sudah mencapai umur segini pun, masih banyak yg belum saya mengerti:
Jumat, 13 April 2012
Thawaf
Langkah-langkah airmata
Mengurai jejak cinta tanah liat
Hidup yang tak pernah bisa
kau terka
dan kematian yang mengintip
gigil dari selubung hari
Labbaik Allahumma labbaik!
Ada yang berjejalan di dalam
Dada. Cahaya. Embun
Terik. Maha. Kau
Labbaik Allahumma labbaik!
Labbaika laasyariikalaka labbaik!
Dalam kerumunan fana
Yang terus berputar menyebut
namaMu
Waktu pun retak di detakku
Dan segalanya menjelma bening
:Kuputuskan membangun ka’bah
Sepanjang masa
Dalam dada
-Helvy Tiana Rosa-
11:12pm
Ya Allah.. semoga kerinduan u/berkunjung ke rumahMu bisa menjelma menjadi kenyataan suatu hari nanti. Aamiin..
Selasa, 03 April 2012
Kerendahan Hati
Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
Yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik
Yang tumbuh di tepi danau
Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air
Tidaklah semua menjadi kapten
Tentu harus ada awak kapalnya…
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan
Tinggi rendahnya nilai dirimu
Yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik
Yang tumbuh di tepi danau
Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air
Tidaklah semua menjadi kapten
Tentu harus ada awak kapalnya…
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan
Tinggi rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu…
Sebaik-baik dari dirimu sendiri
-Taufik Ismail-
02:12pm
:Tidak perlu menjadi orang lain agar dianggap 'ada', cukuplah jadi diri sendiri dan itu lebih mudah dikenang..:
Selasa, 20 Maret 2012
Kupahat Batu Kupahat Diriku
sebungkah batu kali
lama kupahat dalam sepi
membentuk sosok tubuhku
sampai kuyup oleh peluh
belum juga jadi
betapa keras batu itu
Sebingkah hati insani
lama kupahat dalam diri
membentuk sikap jiwaku
sampai kuyup oleh darah
belum juga jadi
betapa keras hatiku
lama kupahat dalam sepi
membentuk sosok tubuhku
sampai kuyup oleh peluh
belum juga jadi
betapa keras batu itu
Sebingkah hati insani
lama kupahat dalam diri
membentuk sikap jiwaku
sampai kuyup oleh darah
belum juga jadi
betapa keras hatiku
-Piek Ardijanto Soeprijadi-
Selasa, 28 Februari 2012
Sebuah Tanya
“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”
(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”
(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang
tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa
suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”
kecuali dalam cinta?”
(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang
tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti.
seperti kabut pagi itu)
“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”
Selasa, 1 April 1969
-Soe Hok Gie-
-Soe Hok Gie-
Selasa, 21 Februari 2012
Kita, Prasangka, Mereka
Kita hidup di tengah-tengah khalayak
Yang selalu berbaik sangka…
Alangkah berbahayanya
Terlalu percaya pada baik sangka mereka
Membuat kita tak lagi jujur pada diri
Atau menginsyafi, bahwa kita tak seindah
prasangka itu
Tapi keinsyafan membuat kadang terfikir
Bersediakah mereka tetap jadi saudara
Saat tahu siapa kita sebenarnya
Kadang terasa, bersediakah dia tetap menjadi
sahabat
Saat tahu hati kita tak tulus, penuh noda dan
karat
Dan… bersediakah dia tetap mendampingi kita
dalam dekapan ukhuwah
Ketika tahu bahwa iman kita berlubang-lubang
Inilah bedanya kita dengan Sang Nabi
Dia dipercaya, karena dia dikenal
Sebagai Al-Amin, orang yang terpercaya
Sementara kita dipercaya, justru karena
Mereka semua tidak mengenal kita..
Yang ada hanya baik sangka…
Maka mari kita hargai dan jaga semua baik
sangka itu
Dengan berbuat sebaik-baiknya
Atau sekurang-kurangnya dengan doa yang
diajarkan Abu Bakar
Lelaki yang penuh baik sangka terhadap diri
dan sesamanya
“ya Allah, jadikan aku lebih baik daripada
semua yang mereka sangka
Dan ampuni aku atas aib-aib yang tak mereka
tahu..”
Atau doa seorang tabi’in yang mulia :
“ya Allah jadikan aku dalam pandanganku
sendiri
Sebagai seburuk-buruk makhluk
Dalam pandangan manusia sebagai yang
tengah-tengah
Dan dalam pandanganMu sebagai yang paling
mulia.”
- Salim A.Fillah-
Jumat, 10 Februari 2012
Iman itu...
Iman itu laut, cintailah ombaknya..
Iman itu api, cintailah panasnya..
Iman itu angin, cintailah badainya..
Iman itu salju, cintailah dinginnya..
Iman itu sungai, cintailah arusnya..
-Anonim-
Minggu, 04 Desember 2011
KepadaMu (Helvy Tiana Rosa)
ketika bahasa tak lagi percaya pada kata
apakah yang masih bisa kita ucap?
: cinta
Ketika wajahmu tak lagi menampakkan
kening, mata, hidung dan mulut
apakah yang masih bisa kukecup?
: doaapakah yang masih bisa kukecup?
Langganan:
Postingan (Atom)



